Senin, 04 Maret 2013

HUJAN DALAM SATU HARAPAN*

Rintikan hujan masih membasahi bumi Jemonistan, bau tanah makin menusuk indra penciuman manusia. Sambil merebah asa di iringi temaram langit kelam di ujung angkasa, seorang diri berjalan menepaki arah jalan sepi nan basah di batas bumi Jemonistan yang asri lagi indah, seindah hati yang ingin ia temui. Hanyasanya gerimis kecil itulah sedikit banyak menghambat lembaran lencana yang ia rangkai dalam memori ingatannya yang sebatas jua. Padahal, sebentar lagi dunia akan di datangi malam tak berbintang, hanya karena kuasa cuaca yang tidak mendukung. Hati seorang diri itu kian di selimuti atmosfer kecemasan yang begitu tebal, dan hampir-hampir ia di tikam oleh asa dan harap saat rasa tersebut ia bendung.
“Mudah-mudahan bisa berjalan sesuai rencana..”. Batinnya.
Seorang itu adalah Akmal Farid, sesosok manusia polos yang seakan terlihat seperti anak kecil karena babyface yang ia miliki, begitu polos tak ayalnya seperti aktor cilik di film HOME ALONE yang biasanya di putar pada saat menjelang tahun baru. Sambil melantunkan sya’ir lagu anak band yang lagi naik daun di kalangan para pelajar, ia masih berjalan menembus rintikan anak hujan di petang tak berirama.                                                                                                                            
 Harus ku akui…
Sulit cari penggantimu…
Yang menyayangku…
…………………….
Sepanjang jalan bumi Jemonistan, Akmal masih melantunkan sya’ir lagu itu, berharap apakah yang ia ucapkan akan segera terjadi? Entahlah? Memang, sudah lama Akmal memendam rasa itu tepatnya pada saat ia pertama kali bertemu dengan sosok gadis belia bak bidadari di bumi Jemonistan pula. Selayaknya seorang psikolog ulung yang langsung bisa menebak karakter seseorang dengan tatapan matanya, Akmal langsung bisa menebak isi hati yang ia temui, dan itu telah terbukti. Sosok gadis belia itu adalah Yuniar Angelia, gadis berkelahiran kota bersemboyankan BERSINAR itu benar-benar telah membuat hati Akmal terjatuh untuk kesekian kalinya. Akmal mengakui bahwa ia sedang merasakan Dejavu kala melihat sosok Yuniar.Akmal teringat akan seseorang yang telah menghiasi jiwanya beberapa tahun silam. Baginya, Yuniar adalah metamorfosis dari Latifah Putri Ambarsari, cinta pertamanya dan telah ia putusi karena alasan tertentu.
Semenjak pertemuan pertamanya dengan Yuniar, Akmal dapat merasakan getaran cinta yang pernah ia rasakan dahulu ketika jiwanya berjumpa dengan Latifah Putri Ambarsari. Pertemuan itu terjadi kala senja datang menghadang di Masjid Raya Jemonistan. Seusai sholat maghrib, Akmal bersegera mengambil sebuah novel yang baru saja ia beli, TEMBANG ILALANG. Isi dari novel itu adalah perjuangan mendapatkan cinta dan kemerdekaan dalam bumi konflik, Indonesia pada masa-masa pra freedom tahun 1930-an. Dan Akmal selalu membayangkan sesosok Asroel (dalam novel itu) yang memperjuangkan jiwa raganya demi mendapatkan kemerdekaan dan cinta dari seorang Roekmini, dan Akmal sendiri ingin sekali menggoreskan sejarah cintanya walau berada di bumi konflik. 
“Kayaknya seru juga bukunya !”.Ucap seorang gadis belia yang tiba-tiba menghampiri Akmal.
Akmal belum berani bertatapan langsung dengan pemilik suara itu. Suaranya begitu merdu, seketika mengiang-ngiang di dalam ingatannya. Diangkatnya wajahnya, kemudian mata mereka saling bertemu. Terdiam sesaat, petang terus membayang meniggalkan berkas-berkas cahaya pada sepasang hati tersebut.
“Oohh…….ya…….!,Tembang Ilalang judulnya.”,Akmal jadi salah tingkah. Tidak seperti biasanya Akmal menjadi seperti orang yang terkena stroke ketika berhadapan dengan lain jenis. Tapi sesosok perempuan ini sangatlah berbeda dengan yang lain.
Gadis belia itu duduk menghampirinya dan berkata, “Kak…boleh kenalan gak…?”. Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Akmal tanda untuk berjabat tangan.
Naluri lelaki Akmal memuncak, ia merasakan sangat nervous kala gadis itu mengajaknya berkenalan ditambah lagi ingin berjabat tangan dengannya. Akmal jadi salah tingkah untuk kesekian kalinya, benar-benar tak seperti biasanya. Hanyasanya yang membedakan adalah sosok gadis bak bidadari yang datang menghampirinya dan begitu manis bila dipandang. Akmal yang sedari tadi merasa nervous mulai melawan rasa itu.
“Jangan panggil aku kakak, panggil saja aku Akmal, itu sudah cukup.”
“Ohh….Mas Akmal ya…..?”
“Mas…? Masmu apa…?”
“Iya, masak kakak gak boleh mas gak boleh, lha terus gimana ?”
“Iya gak apa-apa dech,,adek namanya siapa ?”
“Adek,,?” ucap gadis itu bercanda.
“Iya, adek….adekku.”
“Heh…..panggil saja Yuniar, Yuniar Angelia.”
“Nama yang cantik, secantkik yang punya.”Canda Akmal.
“Hemb…….”
Seketika, pertemuan pertama itu menimbulkan berbagai rasa dalam kalbu, beribu asa langsung tertanam dalam sanubari. Akmal yang biasanya tertutup, tiba-tiba saja menjadi pribadi yang periang semenjak kejadian itu. Mulai dari saat itulah Akmal bisa merasakan guncangan rasa yang hampir saja merobohkan dinding hatinya. Fall in love…..
@@@@@@
Hujan masih mengguyuri bumi Jemonistan. Makin lama  hujan tak lagi berkutik, tak turun dan mulai reda. Akmal memandang ke depan ke arah Masjid Raya Jemonistan, tempat pertama kali ia bertemu dengan bidadari di hatinya. Dan di tempat itu pula ia akan mengungkapkan isi hati yang selama ini ia pendam. Tepatnya hari ini adalah hari yang begitu spesial baginya. Yaitu hari ulang tahun Yuniar bertepatan dengan tanggal 8 Juni. Bagi Akmal, Yuniar adalah sosok yang begitu ia kagumi, dari pribadinya yang begitu sederhana, nggemesi, imut serta tak mau merepotkan orang lain dalam segala hal dan keadaan. Maka dari sinilah rasa cemas Akmal memuncak Everest. Akankah Yuniar menerima hadiah darinya?.Atau akan disia-siakan begitu saja?. Hanya hati Yuniar-lah yang dapat menjawab semua itu. Karena ini merupakan bentuk kerepotan diri baginya. Tapi Akmal membawa hadiah berupa kalung hati dan ingin menyerahkan kepada Yuniar dengan ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu apapun darinya. Sungguh ini adalah bentuk pengorbanan cinta Sang Akmal kepada Yuniar. Dan rasa cemas itu selalu saja datang menghalangi disetiap langkah Akmal.
Lantunan adzan maghrib saling sahut-menyahut menyambut petang yang mendung serta malam yang kelam, mulai dari ujung Pulestine sampai ujung Jemonistan yang sebelumya menghampiri jalur Kemelunia. Memang, ketiga negeri itulah yang bisa meramaikan suasana hati yang dirundung pilu. Dengan adanya sungai sepanjang ketiga negeri itu dan tak tahu dimanakah akan bermuara, bisa deperhatikan pemandangan yang elok tak ayalnya seperti surga dunia. Dan bagi Akmal Jemonistan adalah surga cinta tersendiri dan telah banyak hati yang bersemi di bumi ini, termasuk Akmal.
Kini, rasa cemas Akmal kian membuncak naik. Sedari tadi ia belum melihat sosok yuniar, ia hanya melihat Maharani, teman sekaligus tetangga dekat Yuniar. Rani, begitu ia memanggilnya.
“Yuniar gak ikut jama’ah, Ran.?” Tanya Akmal khawatir.
“Paling sebentar lagi dating..” Jawab Rani yang sudah bias menebak perasaan Akmal.
“Jangan terlalu khawatir, kak. Aku sudah mengingatkannya kalau hari ini adalah special day buatnya..” lanjut Rani
“Jadi Rani sudah tahu kalau aku akan memberikan suprize pada Yuniar ?”
“Kan, Yuniar yang ngomong sama aku, tapi dia nggak mau ngerepoti kakak, dia paling nggak suka akan hal itu. ”
“Tapi aku ini iklas…”
“Yah, kalau begitu, kakak langsung saja bilang sama orangnya.. itu orangnya datang..” Lanjut Rani.
Deg,,,jantung Akmal berdegup cepat, rasa cemas, khawatir dan gugup menjadi satu dalam jiwa sang Akmal pada saat itu. Seakan lidahnya terasa kelu, mulutnya serasa dikunci mati, tubuhnya seperti tak bergerak lagi, darahnya mengalir desar tak terkendali. Ini adalah rasa yang pernah ia temui pada awal bertemu, dan sekarang terulang kembali. Mata Akmal melirik takut ke arah Yuniar, takut akan pandangan mereka saling bertemu. Ia seakan tak ingin membuat Yuniar kecewa malam ini, karena ia akan meluapkan seluruh isi hatinya. Tapi, karena mendung yang menganggu inilah membuat hati Akmal menjadi H2C. Akmal melihat Yuniar tak begitu bersemangat, cemberut dan sangat murung. Padahal, Akmal akan memberikan kejutan pada Yuniar di hari ulang tahunnya itu.
Akmal yang sedari tadi bingung bagaimana cara agar bisa langsung mengungkapkan rasanya pada Yuniar. Akmal kembali memanggil Rani, “Ran, bolehkah kamu membantuku..?”
“Aku siap demi kebaikan kakak dan Yuniar.” Jawab Rani tegas.
“Serius ya, Jadi aku harap kamu bisa menemani Yuniar selama aku berbicara dengannya.”
“Maksudnya jadi obat nyamuk, gitu.”
“Bisa dikatakan begitu, dan yang terpenting adalah kamu harus bisa memahamiku.”
“Aku akan berusaha.” Jawabnya singkat.
Sembari meninggalkan Akmal, Rani berjalan mendekati Yuniar. Akmal bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang dirasakan oleh Yuniar pada saat ini, begitu murung, tak seperti biasanya. Sosok Yuniar yang dikenal Akmal adalah pribadi yang terbuka, selalu riang, murah senyum dan selalu membiarkan orang lain tuk bercanda dengannya. Walaupun sedikit keras kepala, tapi justru dari sinilah yang membuat Akmal begitu kagum padanya.”Jarang-jarang sekali aku menemui gadis seperti dirimu, Yuniar.” Ucap Akmal suatu waktu. Tapi, untuk kali ini Yuniar tampak berbeda, sangat berbeda tak seperti sewajarnya. Kemudian Akmal berjalan menuju Yuniar yang di sampingnya telah ada Rani,
“Yuniar, bolehkah aku bicara sesuatu denganmu.?”
“Aku nggak punya banyak waktu, dan kalau bisa secepat mungkin.” Ucap Yuniar sinis.
“koq somse sekali sich..? ada yang salah denganku..?”
“Lagi males aja..”
“Baiklah kalau begitu, lebih baik habis sholat isya saja, tunggu aku di perempatan jalan.”
“Yeah….” Jawab Yuniar malas.
Hati Akmal mulai tak tenang,seakan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Yuniar. Ditambah lagi gerimis kecil mulai berjatuhan dari langit mendung tak berbintang. Akmal hanya bisa berharap agar semua dapat berjalan sesuai rencana. I don’t know….
@@@@@@
Sholat isya telah usai, para jamaah satu per satu mulai meninggalkan masjid. Perasaan Akmal mulai tak karuan, pikirannya galau tak tentu arah, saat ini ia hanya bisa memfokuskan diri untuk sedikit bisa menenangkan pikirannnya yang telah di hantui rasa cemas yang menikam. Dengan segera, Akmal mengambil jaket almameternya yang dia simpan di teras masjid kemudian berjalan meninggalkan bias-bias cahaya masjid menuju tempat yang telah di sepakati, perempatan jalan negri Jemonistan. Akmal kian di rundung rasa cemas, hanya diri sendiri yang bisa memahami dan tak seorang pun dapat berdusta. Kini, di depan pandangannya telah nampak dua sosok gadis yang salah satunya akan ia temui. Dan sekarang janji telah ditepati, tinggal menunggu kepastian hati, apakah akan tersakiti atau menyakiti, entahlah? Yang mengetahui hanyalah sepasang hati yang akan menuangkan isinya pada hari dimana salah satu hati akan di temani harapan serta merta rasa cemas yang tak kunjung henti.
Kedua gadis itu masih tertunduk, padahal Akmal sudah mulai mendekati dan akan mengungkapkan. “Yuniar, sudah waktunya ! Aku ingin bicara sebentar .” Akmal memulai pembicaraan.
Rani kemudian menjauh, mundur teratur dan berjalan meninggalkan Akmal & Yuniar, kira-kira 5 meter dari mereka. Tak hanya Akmal, Rani pun dapat merasaka kekhawatiran seperti yang dirasakan olehnya. Sedikit banyak. Rani setidaknya dapat membantu Akmal dalam hal ini, lagi pula Rani lebih senior daripada Yuniar.
Yuniar belum berani bertatap muka dengan Akmal. Rasa itupun makin membuat Akmal cemas ditambah lagi gemuruh angkasa raya setia menemani di setiap degupan jantung sang Akmal. Kepolosannyapun keluar , “Yuniar ,,,,?” Sahut Akmal.
Yuniar belum menjawab. Terdiam.
Sekali lagi Akmal melantunkan nama itu dengan penuh harap. “Yuniar………dek Yuniar….?!?!” Rayunya.
“Lebay dech…………!?!?.” Jawab Yuniar gusar.
Lautan hati Akmal menderukan gelombang asa, tapi mungkin ini tahap awal bagi Akmal.
“Oke, kalau begitu,,, Ini adalah hari ultahmu kan…..?”
“Iya….aku juga tahu….” Balas Yuniar acuh.
“Yun, coba lihat aku sebentar, aku hanya ingin memberikanmu hadiah….”
Belum selesai Akmal bicara, Yuniar langsung menyela kalimat Akmal, “Aku tak kan menerima sesuatuupun darimu, Mas Akmal !”
“Tapi aku ini ikhlas, gak berharap apa-apa darimu….”
“Aku gak pantas menerima itu…….” Gusarnya,.
“Baiklah, ini bukan hadiah, tapi ini kenangan dariku  untukmu Yuniar !!”
“Tidak…..tak akan kuterima…”
Akmal menarik nafas panjang, kemudian berjalan mendekati Rani, sambil berbisik Akmal berkata, “Ada apa dengan Yuniar ?”. “Ini karena salahku kak……….!” Jawab Rani polos.
“Jangan menyalahkan diri,,,,pinjamkan aku handphonemu….!!” Akmal mengulurkan tangan.
Tak lama, barang elektronik itu sudah berada di genggaman Akmal. Akmal berjalan mendekati Yuniar dengan langkah cemas. Tiba-tiba……..
Harus ku akui………
Sulit cari penggantimu……..
Yang menyayangku………
Dan takkan pernah ada lagi…..
Yang seperti dirimu…..
Yang sanggup…..mengertikanku……
Akmal duduk di samping Yuniar, sementara lagu itu terus diputar. Yuniar sama sekali tidak memperhatikan Akmal.
“Yuniar, kamu mengerti kan…….?”
“Aku minta lagunya diberhentikan………!” Yuniar gusar.
Bukan sosok Akmal yang cepat putus asa, ia kemudian mengganti lagu itu dengan lagu dari ST-12 Setiaku.
Sambil mengikuti kata-kata dalam nada lagu itu, Akmal begitu berharap, agar supaya Yuniar dapat merasakan seperti apa yang dirasa olehnya. Akmal menekan tombol stop pada handphone  tadi, kemudian melanjutkan,
“Yuniar….kamu percaya gak, kalau aku………..kalau aku………………kalau aku……..”
“Kalau aku, apa ?” Yuniar  mulai tak tenang.
Akmal paling suka moment-moment seperti ini, membuat orang lain tak sabar jika berbicara dengannya. Dan ini adalah untuk kesekian kalinya membuat Yuniar menjadi tak sabaran lagi.
“Kamu percaya gak, kalau aku…………..senang sama kamu…..” Akmal mulai serius.
“Semenjak pada awal pertemuan kita dahulu, aku langsung bisa merasakan gelombang cinta tepat setelah melihatmu……itu bahasa puisinya !!!!” lanjutnya setengah bercanda.
Seakan Yuniar tidak menghiraukan perkataan Akmal barusan. Tapi Akmal yakin, ini baru tahap kedua. “Yuniar……” sahutnya penuh harap.
“Yuniar……Yuniar…… dijawab donkk……..!!
Dalem…….
Akmal hanya bisa tersenyum sinis melihat tingkah Yuniar yang sedikit berbeda. Jauh- jauh hari Akmal mempersiapkan semua itu, tiba-tiba saja bagai tak berada di atas bumi lagi. Tapi sekali lagi, Akmal adalah sosok yang teguh, tak mudah putus asa. Dalam hatinya, ia melantunkan sya’ir lagu…..
Aku masih menunggumu, bicara….
Ku nanti jawaban, dihatimu..
Dalam gelap ini……dalam diam ini….
Masih MENUNGGU……
……………………
Makin lama, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan saru persatu, sementara Akmal terus berharap agar Yuniar dapat menerima hadiah kalung hati darinya, tak hanya itu, ia juga ingin mendengar balasan rasa yang telah  ia lontarkan pada Yuniar. Kado yang sekarang masih berada di tangan Akmal itu seakan hampa tak bernilai sama sekali. “Atau memang ada yang salah denganku….?” Batin Akmal menyalahkan diri.
Yuniar kemudian beranjak berdiri entah bosan dengan tingkah Akmal atau karena cuaca yang tak mendukung. “Mbak Rani, ayo pulang…!” ajak Yuniar. Rani belum beranjak berdiri, hanya terdiam, seakan Rani mendukung Akmal pada saat itu. Yang beranjak malah Akmal seraya berkata, “Mau kemana Yuniar…….aku belum rampung ngomongnya !” keluh Akmal.
“Salah siapa tidak dari tadi,” balas Yuniar.
Akmal mengambil nafas panjang lalu berucap, “Hanya satu permintaan dariku, Yuniar…….! Please……..terimalah kado ini, bukan sebagai hadiah, tapi sebagai kenang-kenangan pertama dan terakhir untukmu seorang !” ucap Akmal penuh harap.
“Sekali-kali tidak, mas ! Aku paling gak suka ngerepotin orang lain……jujur mas…!”
“Iya, tapi…………”
Tiba-tiba saja, gerimis telah berubah ganas menjadi hujan yang begitu deras. Sangat deras hingga menghambat pendengaran, karena benturan keras partikel hujan dengan atap-atap rumah.
“Mbak Rani……ayo…!!!!” ajak Yuniar sambil berlari kea rah selatan perempatan jalan.
Akmal meraih tangan Rani, seraya berkata, “Tolong, kumohon berikan kepada Yuniar.”
Dengan sedikit memaksa Akmal memberikan kado itu kepada Rani. Respon Ranipun sudah bisa terbaca oleh Akmal, ia tidak berani menerima kado itu dan kemudian akan diberikan kepada Yuniar. “Sorry banget kak…..aku gak bisa.”
“sudahlah………bawa dulu saja…” pinta Akmal.
Hujan kian deras, sementara harapan Akmal belum kesampaian. Padahal Yuniar dan Rani telah berlari meninggalkan Akmal seorang diri. Namun Akmal sempat bingung apa yang akan dia lakukan sekarang. Akmal memandang ke depan memperhatikan sosok Yuniar yang berlari menembus hujan deras tanpa ampun, begitu juga dengan Rani. Tiba-tiba terdetik dalam hati Akmal untuk merelakan raganya demi mendapatkan balasan . “Mereka basah kuyub, sedangkan aku tidak, baiklah kalau begitu…….aku akan ikut hujan-hujanan.” Batin Akmal.
Sebagai sosok laki-laki yabg bertanggung jawab, sedikit banyak Akmal harus mengorbankan jasadnya, dan ia akan melakukan itu semua di depan mata Yuniar. Berharap agar Yuniar dapat menerima hadiah darinya, tak lebih dari itu. “Andai Yuniar dapat merasakan seperti apa yang aku rasakan.” Keluh Akmal dalam hati.
Akmal mengikuti langkah Yuniar dari belakang. Entah itu diketahui Yuniar ataukah tidak, Akmal hanya bisa mengira-ngira. Sebagian badan Akmal sudah dibasahi oleh air hujan yang kian deras, begitu deras. Sehingga hampir-hampir indera pendengaran tak lagi dapat merespons kata-kata lawan bicara. Akmal terderan, tiba-tiba saja Yuniar bernaung di teras seseorang, dan Akmal hanya bisa bertanya pada Rani, “Rumah siapa Ran…..?”
“Ini rumah grandparents nya Yuniar.” Jawab Rani.
Akmal menganggukkan kepala tanda mengerti. Lampu remang-remang rumah itu makin membuat hati Akmal terasa ngilu. Yuniar pun tak kunjung jua merelakan hatinya untuk menerima hadiah itu. Padahal, Akmal benar-benar berharap bahwa itu adalah sebuah bukti kecintaannya pada Yuniar. Nekadnya, ketika Rani dan Yuniar berlindung diri dari derasnya sang hujan, Akmal justru berdiri terpaku membiarkan partikel-partikel hujan membasahinya. Dengan sedikit khawatir Rani berkata, “Sudahlah Yuniar ….kasihan masmu…..lebih baik kamu terima saja…..”
“Wegahhh…….” Jawab Yuniar acuh.
Akmal terus saja berdiri di bawah naungan langit berhujan tiada henti, dan sangat ingin melihat sosok Yuniar yang menerima hadiah itu.
“Kamu gak kasihan sama mas Akmal, kalau dia masuk angin gimana….?” Lanjut Rani membela.
Hati  Yuniar belum seutuhnya luluh, hanya sebagian kecl saja bisa merasa kasihan. Begitulah Yuniar, pribadi yang keras kepala. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa meluluhkan hati Yuniar, dan Akmal belum termasuk dari golongan itu. Tapi Akmal yakin, suatu saant nanti ia dapat membuat hati Yuniar luluh. Bahkan dapat membuat hati Yuniar merasa membutuhkan dirinya. Cahaya temaran lampu teras rumah itu dihiasi oleh curahan hujan tiada henti makin membuat Akmal berkeluh kesah. Kalau bukanlah untuk penantian cinta, Akmal tidak akan bertindak senekad itu. Tapi hati Yuniar mulai tak menentu, bingung. “Mas….jangan di situ terus, aku kasihan melihatmu seperti itu.” Yuniar mulai angkat bicara.
Akmal hanya bisa menggelengkan kepala tanda tak mau memenuhi. Makin lama Akmal mulai merasa partikel-partikel hujan mulai membasahi pakaian yang dikenakannya. Sedikit demi sedikit mulai menusuk tulang tengkoraknya. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam badan. Akmal masih nekad, ia melepas jaket yang dikenakannya lalu melemparkan sekenanya ke tanah. Rani mungkin makin prihatin melihat tingkah Akmal, tapi tiada dayalah ia, untuk membuat Yuniar mengerti. Masih saja, Akmal yang orangnya lunak tiba-tiba menjadi keras kepala pada saat itu, sama seperti pribadi Yuniar. Mungkin kecocokan itulah yang sedikit banyak menghambat harapannya. “ Apa kamu tetap saja tidak mau menerima hadiah itu ?” ucap Akmal sambil melipat kedua tangannya di dada.
Yuniar berlari ke arah jalanan yang sudah dibanjiri oleh air hujan. Akmal sempat bingung dengan hal itu. Tapi ini adalah waktu yang tepat untuk menyerahkan kado yang telah dibasahi air hujan. Setelah sebelumnya kado yang ia berikan melalui Rani gagal diterima. Dengan sangat, Akmal ingin memberikan sendiri kado itu. Kotak kado telah dibuang oleh Akmal tinggalah isi dari kotak itu dan telah ada dalam genggaman Akmal. Kemudian Akmal mendekat Yuniar, sementara Rani hanya bisa menyaksikan mereka berdua. Akmal meraih tangan kanan Yuniar, sambil membuka telapak tangannya, Akmal berharap, “Tolong , terimalah ini. Sekali lagi ini adalah kenangan pertama dan terakhir dariku, Yuniar !”
Itulah sosok Akmal, tiada kata berhenti untuk menunggu jawaban dari Yuniar. Takkan hilang harapan  Akmal dihapus hujan. Sangatlah tepat dengan kegigihan Akmal, sungguh hujan takkan mampu menghapus harapannya. Akmal memutar pikirannya, ia mencari cara lain untuk meluluhkan hati keras Yuniar. “Dasar anak yang keras kepala….!” Batin Akmal sambil tersenyum kecil melihat olah Yuniar.
Akmal yakin seyakinnya bahwasanya Yuniar hanya saja melakukan adegan hanya membuar jiwa Akmal menjadi ciut. Tapi sekali lagi, bukannlah jiwa Akmal yang mudah putus asa. Jiwa akmal laksana batu karang yang takkan goyah diterpa ombak lautan, hati Akmal takkan pernah jatuh dihantam badai sekalipun. Karena ia yakin harapannyapun akan dipenuhi oleh Yuniar semata. Akmal memutar haluan, ia mengambil jalan lain untuk mengelabuhi hati Yuniar. “Baiklah Yuniar, kalalu kamu benar-benar tidak mau menerima kalung ini, terserah !, aku minta maaf kalau sedikit memaksa, sekali lagi maaf !” ucap Akmal sambil meninggalkan Yuniar dan Rani.
Akmal berjalan menembus genangan hujan di antara kedua sisi jalan jalur Jemonistan.  Ia melangkah menembus curahan hujan yang kian deras. Ditambah lagi, rasa cemas yang ia pendam kini benar-benar berubah menjadi rasa KECEWA. Kecewa akan harapannuya  yang tidak dapat dibalas oleh Yuniar. Setelah jauh melangkah, tiba-tiba pendengaran Akmal menangkap derap langkah dari arah belakangnya. “Mas…..! sahut Yuniar.
Akmal sekonyong-konyong tidak mendengarkan panggilan Yuniar. Itu bukan karena ia acuh tak acuh, itu adalah actingnya yang menjadi jurus terakhir untuk meluluhkan hati Yuniar.
“Mas…….!” Sahut Yuniar kembali.
Akmal masih enggan mendengarkan kata Yuniar. Ia terus saja melaju tanpa merasa ber dosa meniggalkan sejuta harapan yang sempat kandas. Untuk kesekian kalinya Yuniar menyahut, “Mas Akmal !”
Langsung saja Akmal menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya. “ Ada apa ?” tanyanya. Yuniar tertunduk, apakah karena malu ataukah merasa  bersalah dengan tingkah lakunya yang sedari tadi begitu keras kepala. Akmal sudah bisa mulai menebak perasaan Yuniar hanya dengan menatap di sudut matanya. Ia langsung menyimpulkan dan sesegera mungkin beraksi. Akmal melangkah mendekati Yuniar, diraihnya tangan Yuniar, “Terimalah !” pinta Akmal.
Seperti magic, tiba-tiba saja melapangkan telapak tangannya dan sekarang kalung hati itu sudah berada dalam genggamannya. Kemudian Akmal melanjutkan, “Yuniar….MEMANG LUMPUR-LUMPUR CINTA YANG SELAMA INI AKU LEMPARKAN PADAMU TIDAK DAPAT MEROBOHKAN TEMBOK HATIMU…….TAPI, SETIDAKNYA, LUMPUR-LUMPUR CINTA YANG TELAH AKU LEMPARKAN DAPAT MEMBEKAS PADA TEMBOK HATIMU, DAN SUATU SAAT NANTI ENGKAU AKAN MERASAKANNYA…”
Semua terdiam, membiarkan suara rintikan hujan bersatu dengan kata- kata yang yang baru saja dilontarkan oleh Akmal. Rani tertegun, Yuniarpun demikian.  Akmal tersenyum dalam hati, ia ternyata telah berhasil meluluhkan hati Yuniar. Tak hanya itu, hadiah itupun telah berpindah pada Yuniar.
“Mas…..!” tak hentinya, Yuniar melantunkan kata itu. Tapi Akmal mulai berkata lagi, “ rasakan seperti apa yang kurasakan.”
Akmal melakukan turn around, lalu berjalan meninggalkan Yuniar, Rani dan bumi Jemonistan. Menempuh perjalanan cinta yang penuh onak dan duri telah dilalui Akmal tanpa putus asa. Melangkah menembus hujan yang tak kunjung reda. Hujan setia menemani harapan Akmal sampai detik terakhir episode perjalanan pada malam kelam tak berbintang.
@@@@@@@@
Keesokan harinya, Akmal merasakan kedua bola matanya begitu perih, hampir-hampir ia tak bisa membuka kelopak matanya. Mungkin ini adalah pengaruh air hujan yang masuk ke celah sudut matanya semalam. Tapi itu hanya bertahan selama  beberapa jam saja setelah sebelumnya Akmal membasuh wajahnya dengan air hangat. Setelah kembali tengan ia mengambil laptopnya dan langsung membuka  inbox  emailnya. Ternyata, delapan pesan telah masuk ke dalam surat elektroniknya itu. Dengan seksama Akmal membuka satu persatu pesan tersebut. Sambil terseyum sinis ia membaca seluruh isi pesan itu:
Mas…maafkan aku….!
Membuat dirimu kecewa……
Ini semua salahku….
.karena diriku yang keras kepala……
Mas nggak masuk angin?......
Sambil meringis Akmal menggerakkan jemarinya di atas keyboard laptopnya dan mulai menekan tombol enter untuk membalas semua pesan yang masuk. Akmal mengingat kambali kejadian semalam, ingin rasanya peristiwa itu terekam dan didokumentasikan untuk kehidupannya. Akmal tersenyum memuji dirinya sendiri, “Actingmu keren juga Akmal…!”


Honey Mount, 11 Juni 2012 M
Created by: Akbarnichi NamJie (Akmal Farid)

*Diangkat dari kisah nyata dengan sedikit perubahan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar